Fallacy bisa terjadi karena pemaksaan prinsip-prinsip logis tanpa memperhatikan relevansi, (Sumaryono, 1999:9).
Contoh-contoh fallacy :
1. Kesesatan karena aksen atau tekanan.
* Tiap pagi pasukan mengadakan apel.
* Apel adalah buah.
* Tiap pagi pasukan mengadakan apel.
2. Kesesatan karena term ekuivok.
* Sifat abadi adalah sifat Tuhan.
* Joko adalah mahasiswa abadi.
* Joko adalah mahasiswa yang memiliki sifat ketuhanan.
3. Kesesatan karena arti kiasan.
* Ada gula ada semut.
* Di almari ada gula.
* Di almari ada semut.
4. Kesesatan karena amfiboli (konstruksi kalimat sedemikian rupa sehingga artinya menjadi bias).
* Tadi pagi ada kucing makan ikan mati.
(yang mati kucing atau ikannya..?? )
5. Kesesatan karena over-generalisation.
* Orang gondrong adalah penjahat.
* Semua penjahat harus dihukum.
* Semua orang gondrong harus dihukum.
6. Ksesatan akibat extension (perluasan).
* Polisi melakukan razia daging babi.
* Ditemukan daging babi dicampur dengan daging sapi di pasar Johar.
* Daging sapi di Semarang telah tercemar daging babi.
7. Kesesatan relevansi.
* Pasca runtuhnya Orde Baru krisis ekonomi semakin parah.
* Gus Dur adalah penguasa pasca runtuhnya orde baru.
* Gus Dur akibat krisis ekonomi.
8. Argumen ad hominem (mempersalahkan korban)
* Di Iran sering terjadi gempa bumi
* Masyarakat Iran beraliran Syi'ah
* Gempa bumi di Iran karena Allah tidak meridhoi Syi'ah.