Wikipedia

Hasil penelusuran

Kamis, 08 Mei 2014

Makalah Takhrijul Hadits

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Takhrij hadis merupakan langkah awal dalam kegiatan penelitian hadis, pada masa awalnya penelitian hadis ini telah dilakukan oleh para ulama salaf yang kemudian hasilnya telah dikodifikasikan dalam berbagai buku hadis.
Mengetahui masalah takhrij, kaidah dan metodenya adalah sesuatu yang sangat penting bagi orang yang mempelajari ilmu tidak akan dapat membuktikan (menguatkan) dengan suatu hadis atau tidak dapat meriwayatkan kecuali setelah para ulama meriwayatkan hadis tersebut dalam kitabnya lengkap dengan sanadnya, karena itu, masalah takhrij ini sangat dibutuhkan setiap orang yang membahas atau menekuni ilmu-ilmu syar’i dan yang sehubungan denganya.
Takhrij hadis bertujuan untuk mengetahui sumber asal hadis yang ditakhrij. Tujuan lainya adalah mengetahui ditolak atau diterimannya hadis-hadis tersebut. Dengan cara ini kita akan mengetahui hadis-hadis yang pengutipanya memperhatikan kaidah-kaidah ulumul hadis yang berlakusehingga hadis tersebut menjadi jelas, baik asal-usul maupun kualitasnya.

B.  Pembatasan Masalah
Untuk memperjelas ruang lingkup pembahasan, maka masalah yang dibahas pada masalah :
a.     Pengertian Takhrij Hadits
b.     Tujuan dan faedah Takhrij Hadits
c.      Sejarah Takhrij Hadits
d.     Kitab-kitab yang diperlukan untuk Takhrij Hadits
e.      Metode Takhrij Hadits

C.  Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan pembatasan tersebut, masalah-masalah yang dibahas dapat dirumuskan sebagai berikut :
a.     Apa pengertian Takhrij Hadits ?
b.     Apa tujuan dan faedah Takhrij Hadits ?
c.      Bagaimana sejarah Takhrij Hadits ?
d.     Apa saja kitab-kitab yang diperlukan untuk Takhrij Hadits ?
e.      Apa saja metode Takhrij Hadits ?

D.  Tujuan Masalah
a.     Untuk mengetahui pengertian takhrij hadits
b.     Untuk mengetahui tujuan dan faedah takhrij hadits
c.      Untuk mengetahui sejarah takhrij hadits
d.     Untuk mengetahui apa saja kitab-kitab yang diperlikan untuk takhrij hadits
e.      Untuk menjelaskan metode tahkrij hadits








BAB II
PEMBAHASAN
A.  PENGERTIAN TAKHRIJ HADITS
Takhrij menurut lughat berasal dari kata خرج , yang berarti nampak atau jelas. Takhij secara bahasa berarti juga berkumpulnya dua perkara yang saling berlawanan dalam satu persoalan, namun secara mutlak, ia diartikan oleh para ahli bahasa dengan arti mengeluarkan (al-istinbath), melatih atau membiasakan (at-tadrib), dan menghadapkan (at-taujih).[1]
Takhrij menurut istilah adalah,
التخريج هو الدلالة على موضع الحديث في مصادر الااصلية التي اخرجته سنده ببيان مرتبته عند الحاجة.
Takhrij adalah penunjukan terhadap tempat hadits di dalam sumber aslinya yang dijelaskan sanad dan martabatnya sesuai keperluan.[2]
Takhrij juga dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.     Mengemukakan hadits pada orang banyak dengan menyebutkan para rawinya yang ada dalam sanad hadits itu.
2.     Mengemukakan asal-usul hadits sambil dijelaskan sumber pangambilannya dari berbagai kitab hadits, yang rangkaian sanadnya berdasarkan riwayat yang telah diterimanya sendiri atau berdasarkan rangkaian sanad gurunya, dan yang lainnya.
3.     Mengemukakan hadits-hadits berdasarkan sumber pengambilannya dari kitab-kitab, yang didalamnya dijelaskan metode periwayatannya dan sanad hadits=hadits tersebut, dengan metode dan kualitas para rawi sekaligus haditsnya. Dengan demikian, pen-takhrij-an hadits penelusuran atau pencarian hadits dalam berbagai kitab hadits (sebagai sumber asli dari hadits yang bersangkutan), baik menyangkut materi atau isi (matan), maupun jalur periwayatan (sanad) hadits yang dikemukakan.

B.  TUJUAN DAN FAEDAH TAKHRIJ HADITS
Ilmu takhrij merupakan bagian dari ilmu agama yang harus mendapat perhatian serius karena di dalamnya dibicarakan berbagai kaidah untuk mengetahuai sumber hadits itu berasal. Di samping itu, di dalamnya ditemukan banyak kegunaan dan hasil yang diperoleh, khususnya dalam menentukan kualitas sanad hadits.[3]
Takhrij hadits bertujuan mengetahui sumber asal hadits yang ditakhrij. Tujuan lainnya adalah mengetahui ditolak atau diterimanya hadits-hadits tersebut. Dengan cara ini, kita akan mengetahui hadits-hadits yang pengutipannya memerhatikan kaidah-kaidah ulumul hadits yang berlaku sehingga hadits tersebut menjadi jelas, baik asal-usul maupun kualitasnya.

Adapun faedah takhrij hadits ini antara lain:
1.     Dapat diketahui banyak-sedikitnya jalur periwayatan suatu hadits yang sedang menjadi topik kajian.
2.     Dapat diketahui kuat dan tidaknya periwayatan akan menambah kekuatan riwayat. Sebaliknya, tanpa dukungan periwayatan lain, kekuatan periwayatan tidak akan bertambah.
3.     Dapat ditemukan status hadits shahih lidzatih atau shahih li ghairih, hasan li dzatih atau hasan li ghairih. Demikian juga, akan dapat diketahui istilah mutawatir, masyhur, aziz, dan gharib-nya.[4]
4.     Mamberikan kemudahan bagi orang yang hendak mengamalkan setelah mengetahui bahwa hadits tersebut adalah maqbul (dapat diterima). Sebaliknya, oarang tidak akan mengamalkannya apabila mngetahui bahwa hadits tersebut mardud (ditolak).
5.     Menguatkan keyakinan bahwa suatu hadits adalah benar-benar berasal dari Rasulullah SAW. yang harus diikuti karena adanya bukti-bukti yang kuat tentang kebenaran hadits tersebut, baik dari segi sanad maupun matan.

C.  SEJARAH TAKHRIJ HADITS
Penguasaan para ulama’ dahulu terhadap sumber-sumber hadits begitu luas sehingga jika disebutkan suatu hadits mereka tidak merasa kesulitan untuk mengetahui sumber hadits tersebut. Ketika semangat belajar mulai melemah, mereka kesulitan untuk mengetahui tempat-tempat hadits yang dijadikan rujukan para penulis ilmu syar’i. Sebagian ulama’ bangkit dan memperlihatkan hadits-hadits yang ada pada sebagian kitab dan menjelaskan sumbernya dari kitab yang asli, menjelaskan metodenya, dan menerangkan kualitasnya, apakah hadits tersebut shahih atau dha’if, lalu muncullah apa yang dinamakan dengan kutub at-takhrij (buku-buku takhrij).[5]
Ulama’ yang pertama kali melakukan takhrij menurut Mahmud Ath-Thahhan adalah Al-Khaththib Al-Baghdadi (w. 436 H). Kemudian, dilakukan pula oleh Muhammad bin Musa Al-Hazimi (w. 584 H) dengan karyanya yang berjudul Takhrij Ahadits Al-Muhadzdzab. Ia men-takhrij kitab fiqh Syafi’ah karya Abu Ishaq asy-Syirazi. Ada juga ulama’ lainnya, seperti Abu Al-Qasimi Al-Husaini dan Abu Al-Qasim Al-Mahrawani. Karya kedua ulama’ ini hanya beberapa manuskrip saja. Pada perkembangan selanjutnya, cukup banyak bermunculan kitab yang berupaya men-takhrij kitab-kitab dalam berbagai ilmu agama.[6]
Di antara kitab-kitab takhrij tersebut, adalah sebagai berikut:[7]
1.     Takhrij Hadits Al-Muhadzdzabi, karya Muhammad Bin Musa Al-Hazimi Asy-Syafi’i (w. 548 H).
2.     Takhrij Ahadits Al-Mukhtashar Al-Kabir Li Ibni Al-Hajib, karya Muhammad Bin Ahmad Abdul Hadi Al-Maqdisi (w. 762 H).
3.     Nashbu Ar-Rayah Li Ahadits Al-Hidayah Li Al-Marghinani, karya Abdulllah Bin Yusuf Al-Zaila’i.
4.     Takhrij Ahadits Al-Kasysyaf Li Az-Zamakhsyari, karya Al-Hafidz Al-Zaila’i.
5.     Al-Badru Al-Munir Fi Takhrij Al-Ahadits Wa Al-Atsar Al-Waqi’ah Fi Asy-Ayarhi Al-Kabir Li Ar-Rafi’i, karya Umar Bin Ali Bin Al-Mulaqqin (w. 804 H).
6.     Al-Mughni’an Hamli Al-Ashfar Fi Al-Ashfar Fi Takhriji Ma Fi Al-Ikhya’ Min Al-Akhbar, karya Abdurrahman Al-Husaini Al ‘Iraqi (w. 806 H).
7.     Takhrij Al-Ahadits Allati Yusyiiru Ilaihi At-Tirmidzi Fi Kulli Bab, karya Al-Hafidz Al-‘Iraqi.
8.     At-Talkhish Al-Habir Fi Takhrij Ahaditsi Syarh Al-Wajiz Al-Kabir Li Ar-Rafi’i, karya Ahmad Bin Ali Bin Hajar Al-Asqalani (w. 852 H).
9.     Ad-Dirayah Fi Takhrij Ahadits Ahadits Al-Hidayah, karya Al-Hafidz Ibnu Hajar.
10.            Tuhfatu Ar-Rawi Fi Takhrij Ahaditsi Al-Baidhawi, karya Abdur Ra’uf Ali Al-Manawi (w. 1031 H).

D.  KITAB-KITAB YANG DIPERLUKAN
Dalam melakukan takhrij hadis, kita memerlukan kitab-kitab yang berkaitan dengan takhrij hadis ini. Adapun kitab-kitab tersebut antara alain sebagai berikut.
1.     Hidayatul bari ila tartibi Alhadisil Bukhari
Penyusun kitab ini adalah Abdur  Rahman Ambar A-Misri At-Tahtawi. Kitab ini disusun khusus untuk mencari hadis-hadis yang termuat dalam Shahih Al-Bukhari. Lafadz hadis disusun menurut aturan urutab huruf abajad Arab. Namun, hadis-hadis yang dikemukakan secara berulang dalam Shahih Bukhari tidak dimuat secara berulang dalam kamus di atas. Dengan demikian, pebedaan lafadz dalam matan hadis riwayat Al-Bukhari tidak dapat diketahui melalui kamus tersebut.

2.     Mu’jam Al-Fadzi wala Syyama Al-Gariibu Minha atau Fuhris litartibi Ahaditsi Shahihi Muslim
Kitab tersebut merupakan salah satu juz, yakni juz ke-5 dari Kitab Shahih Muslim yang disunting oleh Muhammad Abdul Baqi. Juz ke-5 ini merupakan kamus terhadap juz ke-1-4 yang berisi:
a.     Daftar urutan judul kitab, nomor hadis, dan juz yang memuatnya.
b.     Daftar nama para sahabat Nabi yang meriwayatkan hadis yang termuat dalam Shahih Muslim.
c.      Daftar awal matan hadis dalam bentuk sabda yang tersusun menurut abjad serta menerangkan nomor-nomor hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari bila kebetulan hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Bukhari.





3.     Miftahus Sahihain
Kitab ini disusun oleh Muhammad Syarif bin Mustafa Al-Tauqiah. Kitab ini dapat digunakan untuk mencari hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Muslim. Akan tetapi, hadis-hadis  yang dimuat dalam kitab ini hanyalah hadis-hadis yang berupa sabda (qauliyah) saja. Hadis tersebut disusun menurut abjad  dari awal lafadz matan hadis.

4.     Al-Bugyatu fi Tartibi Ahaditsi Al-Hilyah
Kitab ini disusun oleh Sayyid Abdul Aziz bin Al-Sayyid Muhammad bin Sayyid Siddiq Al-Qammari. Kitab hadis tersebut memuat dan menerangkan hadis-hadis yang tercantum dalam kitab yang disusun Abu Nuaim Al-Asabuni (w. 430 H) yang berjudul Hilyatul Auliyai wathabaqatul Asfiyai.
Sejenis dengan kitab tersebut adalah kitab Miftahut Tartibi li Alhaditsi Tarikhil Khatib yang disusun oleh sayyid Ahmad bin Sayyid Muhammad bin Sayyid As-Siddiq Al-Qammari yang memuat dan menerangkan hadis-hadis yang tercantum dalam kitab sejarah yang disusun oleh Abu Bakar bin Ali bin Subit bin Ahmad Al-Bagdadi yang dikenal dengan Al-Khatib Al-Bagdadi yang dikenal dengan Al-Khatib Al-Bagdadi (w. 463 H). Kitabnya diberiKitabnya diberi  judul Tarikhu Bagdadi yang terdiri atas 4 jilid.

5.     Al-Jami’us Shagir.
Kitab ini disusun oleh Imam Jalaludin Abdurrahman As-Suyuthi (w. 91 H). Ktab kamus hadis ini memuat hadis-hadis yang terhimpun dalam kitab himpunan kutipan hadis yang disusun oleh As-Suyuthi juga, yakni Jam’ul Jawami’i.
Hadis yang dimuat dalam kitab Jamius Shagir disusun berdasarkan urutan abjad dari awal lafadz matan hadis. Sebagian dari hadis-hadis itu ada yang ditulis secara lengkap dan ada pula yang ditulis sebagian-sebagian saja, namun telah mengandung pengertian yang cukup.
Kitab hadis tersebut juga menerangkan nama-nama sahabat Nabi yang meriwayatkan hadis yang bersangkutan dan nama-nama mukharij-nya (periwayat hadis yang menghimpun hadis dalam kitabnya). Selain itu,  hampir setiap hadis yang dikutip dijelaskan kualitasnya menurut penilaian yang dilakukan atau disetujui oleh As-Suyuthi.

6.     Al-Mu’jam Al-Mufahras li Alfadzil Hadis Nabawi
Penyusun kitab ini adalah sebuah tim dari kalangan orientalis. Di antara anggota tim yang paling aktif dalam kegiatan proses penyusunan adalah Dr. Arnold John Wensinck (w. 939 M), seorang profesor bahasa-bahasa Semit, termasuk bahasa Arab di Universitas Leiden, negeri Belanda.
Kitab ini dimaksudkan untuk mencari hadis berdasarkan petunjuk lafadz matan hadis. Berbagai lafadz yang disajikan tidak dibatasi hanya lafadz-lafadz yang berada di tengah dan bagian-bagian lain dari matan hadis. Dengan demikian, kitab Mu’jam mampu memberikan informasi kepada pencari matan dan sanad hadis selama sebagian dari lafazh matan yang dicarinya itu telah diketahuinya.
Kitab mu’jam ini terdiri dari tujuh juz dan dapat digumakan untuk mencari hadis-hadis yangbterdapat dalam sembilan kitab hadis, yakni Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan Tirmidzi, Sunan Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, Sunan Darimi, Muwatta Malik, dan Musnad Ahmad

E.   METODE TAKHRIJ HADITS
1.     Metode Takhrij Hadits menurut Lafadz Pertama
Metode takhrij hadits menurut lafadz pertama, yaitu suatu metode yang berdasarkan pada lafadz pertama matan hadits, sesuai dengan urutan huruf-huruf hija’iyyah dan alfabetis, sehingga metode ini mempermudah pencarian hadits yang dimaksud.
Adapun kitab yang menggunakan metode ini, diantaranya kitab Al-Jami’ As-Shaghir Fi Ahadits Al-Basyir An-Nazir, yang disusun oleh Jalaluddin Abu Fadhil Abd Ar-Rahman Ibn Abi Bakar Muhammad Al-Khudri As-Suyuthi. Dalam ini, hadits-hadits disusun berdasarkan urutan huruf hija’iyyah sehingga pencarian hadits yang dimaksud sangat mudah. Juga didalamnya dimuat petunjuk para mukharij hadits yang bersangkutan (dalam Mashdar Al-Ashli) dan pernyataan kualitas hadits yang bersangkutan.
  Contohnya hadits Nabi berikut ini,
ليْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ

Untuk mengetahui lafadz lengkap dari penggalan matan tersebut, langkah yang harus dilakukan adalah menelusuri penggalan matan itu pada urutan awal matan yang memuat penggalan matan yang dimaksud. Dalam kamus yang disusun oleh Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, penggalan hadits tersebut terdapat di halaman 2014. Berarti, lafadz yang dicari berada pada halaman 2014 juz IV. Setelah diperiksa, bunyai lengkap matan hadits yang dicari adalah,


عن ابي هريرة ان رسول الله ص قال: ليْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
  
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “(Ukuran) orang yang kuat (perkasa) itu bukanlah dari kekuatan orang itu dalam berkelahi, tetapi yang disebut sebagai orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya tatkala dia marah.   “

Bila hadits itu dikutip dalam karya tulis ilmiah, sesudah lafadz matan dan nama sahabat periwayat hadits yang bersangkutan ditulis, nama Imam Muslim disertakan. Biasanya kalimat yang dipakai adalah,
رواه مسلم
Nama sahabat periwayat hadits dalam contoh di atas adalah Abu Hurairah, dapat pula ditulis sesudah nama Muslim dan tidak ditulis di awal matan. Kalimat yang dipakai adalah,
رواه مسلم عن ابي هريرة
Dalam kitab Shahih Muslim dicantumkan di catatan kaki sebagaimana lazimnya.

2.     Metode Takhrij menurut Lafadz-lafadz yang Terdapat dalam Hadits.
Metode takhrij hadits menurut lafadz yang terdapat dalam hadits, yaitu suatu metode yang berlandaskan pada kata-kata yang terdapat dalam matan hadits, baik berupa kata benda ataupun kata kerja.
Dalam metode ini tidak digunakan huruf-huruf, tetapi yang dicantumkan adalah bagian haditsnya sehingga pencarian hadits-hadits yang dimaksud dapat diperoleh dengan cepat.
Kitab yang berdasarkan metode ini di antaranya adalah kitab Al-Mu’jam Al-Mufahros Li Alfadz Al-Hadits An-Nabawi,yang disusun oleh A.J. Wensink dan kawan-kawan, yang kemudian diterjemahkan oleh Muhammad Fu’ad Abd Baqi. Kitab yang menjadi rujukan kitab kamus tersebut adalah Shahih Bukhari, Shahih Muslim,Sunan Ibn Majah, Sunan Abu Daud, Sunan An-Nasa’i, Sunan At-Tirmidzi, Sunan Ad-Darami, Muwatha’ Imam Malik, dan Musnad Ahmad Ibn Hanbal.
  Contohnya hadits berikut ini,
عن علي رضي الله عنه عن النبي ص.م. قال : رفع القلم عن أمتى عن ثلاثة : عن النائم حتّى يستيقظ وعن الصبي حتى يحتلم وعن المجنون حتى يفيق.
Dalam mencari hadits tersebut, kita bisa menggunakan kitab Al-Mu’jam Al-Mufahros Li Alfadz Al-Hadits An-Nabawi, berdasarkan kata kunci رفع , القلم dan ثلاثة     .
Kata رفع dicari pada juz yang memuat huruf awal (dalam hal ini juz II), kata القلم dicari pada juz yang memuat huruf qaf (dalam hal iini juz V), dan kata ثلاثة  dicari pada juz yang memuat huruf tsa (dalam hal ini juz I).
Setelah masing-masing juz diperiksa, yakni untuk tiap-tiap penggalan matan yang dimaksud, data yang disajikan oleh kitab-kitab Al-Mu’jam Al-Mufahros Li Alfadz Al-Hadits An-Nabawi, adalah sebagai berikut.

Juz
Hlm.
Lambang yang diketemukan
I
298
د     حدود 17   
II
280
خ    حدود 22, طلاق 11,  د  حدود 17   
V
465
خ    حدود 22, طلاق 11, د 17, ت حدود 1
د     حدود 17
ن     طلاق 21, جه  طلاق 15, دي حدود 1
حم  1, 158, 155, 140, 118, 116, 1002

Dari data di atass, dapat diketahui bahwa informasi yang diperoleh lewat penelusuran kata القلم, yang dimuat dalam juz V, ternyata lebih banyak lagi daripada yang berasal dari Juz I dan Juz II.
3.     Takhrij melalui perawi hadist pertama
Metode ini berlandaskan pada perawi pertama suatu hadis, baik perawi tersebut dari kalangan sahabat, bila sanadnya muttasil sampai kepada NAbi saw., atau dari kalangan tabi’in,apabila hadis tersebut mursal. Para penyusun kitab-kitab takhrij dengan metode ini mencantumkan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh perawi pertama dari setiap hadis yang hendak di-takhrij dan setelah itu,barulah mencari nama perawi pertama tersebut dalam kitab-kitab itu, dan selanjutnya,mencari hadis dimaksud di antara hadis-hadis yang tertera dibawah nama perawi pertama tersebut.
     Keuntungan dengan metode ini adalah bahwa masa proses takhrij dapat diperpendek karena dengan metode ini, diperkenalkan para ulama hadis yang meriwayatkannya beserta kitab-kitabnya. Akan tetapi, kelemahan dari metode ini adalah ia tidak dapat digunakan dengan baik apabila perawi pertama hadis yang hendak diteliti itu tidak diketahui dan demikian juga, merupakan kesulitan tersendiri untuk mencari hadis diantaranya hadis-hadis yang tertera di bawah setiap perawi pertamanya yang jumlahnya kadang-kadang cukup banyak.
Kitab-kitab yang disususun metode ini adalah kitab-kitab al-Athraf dan kitab-kitab Musnad. Kitab AL-Athraf adalah kitab yang menghimpun hadis-hadis yang diriwayatkan oleh setiap sahabat. Penyusunannya  hanya menyebutkan beberapa kata atau pengertian dari matan hadis, yang denganya dapat dipahami hadis dimaksud. Sementara, dari segi sanad, keseluruhan sanad-sanad-nya dikumpulkan. Diantara kitab-kitab Al-Athraf ini adalah Athraf Al-Shahiyan karangan Imam Abu Mas’ud Ibrahim al-Dimasyqi (w. 400 H), Athrafal-Kutub al-Sittah karangan Syams al-Din al-Maqsidi (w. 507 H),dan yang lainya.
    Adapun kitab musnad adalah kitab yang disusun berdasarkan perawi teratas, yaitu sahabat,dan memuat hadis-hadis setiap sahabat. Kitab ini menyebutkan seseorang sahabat dan dibawah namanya itu dicantumkan hadis-hadis yang diriwayatkannya dari Rosulullohsaw. Beserta pendapat dan tafsiranya. Suatu kitab musnad tidaklah memuat keseluruhan sahabat, ada di antaranya yang memuat sahabat dalam jumlah besar dan ada yang memuat sahabat-sahabat yang memiliki kesamaan dalam hal-hal tertentu, seperti musnad sahabat yang sedikit riwayatnya atau musnad sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, atau bahkan ada musnad yang hanya memuat hadis-hadis dari satu orang sahabat, yaitu seperti musnad Abu Bakar.
Hadis-hadis yang terdapat didalam kitab tidak diatur menurut suatu aturan apapun dan tidak memiliki nilai atau kualitasnya yang sama. Dengan demikian, didalam musnad  hadis-hadis shahih, hasan dan dhaif dan masing masing tidak terpisah antara yang satu dan yang lainnya,tetapi dikumpulkan, menjadi satu. Diantara contoh kitab musnad tersebut adalah Musnad Imam Ahmad Ibn Hambal.
Kelebihan kitab musnad adalah bahwa kitab ini mencakup hadis-hadis dalam jumlah yang sangat banyak,memiliki nilai kebenaran yang lebih banyak dari yang lainnya, serta mencakup hadis-hadis dan atsar-atsar yang tidak terdapat didalam kitab yang lain selain kitab ini.
Selain memiliki kelebihan, kitab jenis ini juga mempunyai kekurangan-kekurangan, seperti tanpa mengetahui nama sahabat, tidaklah mungkin seorang mukharrij sampai kepada hadis yang dituju, untuk mengetahui hadis mawudhu’ mengharuskan seorang peneliti membaca musnad keseluruhanya, dan berdasarkan segi tata letaknya yang sedemikian rupa, akan mengakibatkan tidak efisien menggunakan metoe ini.
4.     Mencari Hadits berdasarkan Tema
Upaya mencari hadis terkadang tidak didasarkan pada lafazh matan (materi) hadis, tetapi didasarkan pada topik masalah. Pencarian matan hadis berdasarkan topic masalah sangat menolong pengkaji hadis yang ingin memahami petunjuk-petunjuk hadisdalam segala konteksnya.
Pencarian matan hadis berdasarkan topic masalah tertentu dapat ditempuh dengan cara membaca berbagai kitab himpunan kutipan hadis , namun berbagai kitab itu biasanya tidak menunjukan teks hadis menurut  para periwayatnya masing-masing. Padahal, untuk memahami topic tertentu tentang petunjuk hadis, diperlukan pengkajian terhadap teks-eks hadis menurut periwayatnya masing-masing. Dengan bantuan kamus hadis tertentu, pengkajian teks dan konteks hadis menurut riwayat dari berbagai periwayat akan mudah dilakukan. Salah satu kamus hadis itu adalah kitab Miftahu Al-Qunuz Al-Sunnah (Untuk empat belas hadis dan kitab tarikh Nabi).
Kitab tersebut merupakan kamus hadis yang disusun berdasarkan topic masalah. Pengarang asli kamus hadis tersebut adalah Dr. A.J. Wensinck (w. 1939), seorang orientalis yang besar jasanya dalam dunia perkamusan hadis. Sebagaimana telah dibahas dalam uraian terdahulu, A.J. Wensinck adalah juga penyusun utama kitab kamus hadis, yaituAl-Mu’jam Al-Mufahras li Al-Faz Al-Hadits An-Nabawi. Bahasa asli kitab tersebut adalah bahasa inggris denagan judul A Handbook of Early Muhammadan. Kamus hadis yang berbahasa inggris tersebut diterjemahkan kedalam bahasa arab sebagaimana tercantum di atas oleh Muhammad Fuad Al-Baqi. Muhammad Fuad tidak hanya menerjemahkan saja, tetapi juga mengoreksi berbagai data yang salah.
Naskah  yang berbahasa  inggris diterbitkan untuk  pertama  kalinya  pada tahun 1927  dan terjemahanya  tahun  1934
Dalam kamus  hadis tersebut  dikemukakan  berbagai  topik ,  baik  yang  berkenaan  dengan masalah  masalah  yang berkaitan  dengan petunjuk  nabi  maupun  yang  berkenaan dengan  masalah  masalah yang  berkaitan  dengan  nama  . setiap  subtopik  dikemukakan data hadis dan  kitab yang menjelaskanya .
Dalam pencarian hadis, yang pertama  kali  harus diketahui adalah  temanya. Adapun tema yang akan kita  cari  adalah,
 رفع القلم عن ثلاثة : عن النائم حتّى يستيقظ
Telah diangkat kalam (pencatat amal manusia ,disebabkan) oleh tiga keadaan ,(yakni) yang tidur sampai bangun ....
Jika hadits tersebut  dikutip dalam karya  tulis  ilmiah, sesudah ditulis lafazh matan dan nama  sahabat periwayat hadis  yang  bersangkutan ,disertakan nama imam yang  meriwayatkannya (dalam hal ini salah  satu imam  yang  meriwayatkan hadis ini adalah  at-tirmidzi) sehingga kalimat yang dipakai  adalah رواه الترمذي .
Nama sahabat periwayat hadis , dalam contoh di atas   imam ali  abi thalib , dapat pula  sesudah nama at-tirmidzi ,dan tidak ditulis di awal matan. Dalam hal ini, kalimat yang dipakai dapat berbunyi,
رواه مسلم عن علي.
Dalam hasil pencarian hadits tersebut, dapat dirumuskan:
بخ     ك 86   ب 22   ك 93   ب 19
مس   ك 29   ح 22
تر     ك 51    ب 1
بد     ك 37    ب 18,17
مج    ك 20    ب 1
مي    ك 13    ب 1
زح 777
حم    أول 158,140,119,116, سادس 144,101,100
Kitab-kitab yang menjadi rujukan kamus tidak hanya kitab-kitab hadits saja, tetapi jumlah kitab rujukan itu ada empat belas kitab, yakni:
1.     Shahih Bukhari
2.     Shahih Muslim
3.     Sunan Abi Daud
4.     Sunan At-Tirmidzi
5.     Sunan An-Nasa’i
6.     Sunan Ibnu Majah
7.     Sunan Ad-Darami
8.     Muwaththa’ Malik
9.     Musnad Ahmad bin Hanbal
10.            Musnad Abi Daun At-Thayalisi
11.            Musnad Zaid bin Ali
12.            Sirah Ibnu Hisyam
13.            Maghadi Al-Waqidi
14.            Tabaqat Ibnu Sa’ad
Dalam kamus, nama dan beberapa hal yang berhubungan dengan kitab-kitab tersebut dikemukakan dalam bentuk lambang. Contoh berbagai lambang yang dipakai dalam kamus Hadits Miftah Kunuzis Sunnah, yaitu:
أول
Juz pertama
ب
Bab
بخ
Shahih Al-Bukhari
د
Sunan Abu Daud
تر
Sunan At-Tirmidzi
ثالث
Juz ketiga
ثان
Juz kedua
ج
Juz
ح
Hadits
حم
Musnad Ahmad
خامس
Juz kelima
رابع
Juz keempat
ز
Musnad Zaid bin Ali
سادس
Juz keenam
ص
Halaman (shafhah)
ط
Musnad Abi Daud At-Thayalisi
عد
Thabaqat Ibni Sa’ad
ق
Bagian kitab (qismul kitab)
قا
Konfirmasikan data sebelumnya dengan data yang sesudahnya
قد
Maghadzi Al-Waqidi
ك
Kitab (dalam arti bagian)
ما
Muwaththa’ Malik
مج
Sunan Ibnu Majah
مس
Shahih Muslim
م م م
Hadits terulang beberapa kali
مي
Sunan Ad-Darami
نس
Sunan An-Nasa’i
هش
Sirah Ibni Hisyam

Angka kecil yang berada disebelah kiri bagian atas dari angka yang umum berarti hadits yang bersangkutan termuat sebanyak angka kecil itu pada halaman atau bab yang angkanya disertai dengan angka kecil tersebut.
Setiap halaman kamus terbagi dalam tiga kolom. Setiap kolom memuat topik, setiap topik biasanya mengandung beberapa subtopik, dan pada setiap subtopik dikemukakan data kitab yang memuat hadits yang bersangkutan.

5.     Takhrij berdasarkan status hadis
          Metode ini memperkenalkan suatu upaya baru yang telah dilakukan para ulama hadis dalam menyusun hadis-hadis, yaitu  hadis berdasarkan statusnya. Karya-karya tersebut sangat membantu sekali dalam proses pencarian hadis, seperti hadis-hadis qudsi, hadis masyhur, hadis mursal, dan lainnya. Seorang peneliti hadis,dengan membuka kitb-kitab seperti diatas, dia telah melakukan takhrij al-hadits. Kelebihan dari metode ini dapat dilihat dari segi mudahnya proses takhrij. Hal ini karena sebagian besar hadis-hadis yang dimuat dalam kitab yang berdasarkan sifat-sifat hadis sangat sedikit sehingga tidak memerlukan upaya yang rumit. Namun, karena cakupannya sangat terbatas dan sedikitnya hadis-hadis yang dimuat dalam karya-karya sejenis, hal ini sekaligus menjadi kelemahan dari metode ini.  Kitab-kitab yang disusun berdasarkan metode ini adalah : Al-Azhar al-Mutanastiroh fi al-Akhbar Al-Mutawatirah karangan Al-Suyuthi, Al-ttihafat al-Saniyyah fi al-Ahadits al-Qudsiyyah oleh al-Madani dan kitab-kitab sejenis lainya.
Demikianlah metode-metode takhrij yang dapat dipergunakan oleh para peneliti hadis dalam rangka mengenal hadis-hadis Nabi saw. Dari segi sanad dan matan-nya, terutama dari segi statusnya, yaitu diterima (maqbul) dan ditolak (mardud)-nya suatu hadis.





















BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Takhrij menurut lughat berasal dari kata خرج , yang berarti nampak atau jelas. Takhrij menurut istilah adalah penunjukan terhadap tempat hadits di dalam sumber aslinya yang dijelaskan sanad dan martabatnya sesuai keperluan. Takhrij hadits bertujuan mengetahui sumber asal hadits yang ditakhrij. Adapun sejarah takhrij hadits yaitu, ketika semangat belajar mulai melemah, para ulama’ kesulitan untuk mengetahui tempat-tempat hadits yang dijadikan rujukan para penulis ilmu syar’i. Sebagian ulama’ bangkit dan memperlihatkan hadits-hadits yang ada pada sebagian kitab dan menjelaskan sumbernya dari kitab yang asli. Dan kitab-kitab yang diperlukan untuk mentakhrij hadits antara lain: Hidayatul bari ila tartibi Alhadisil Bukhari, Mu’jam Al-Fadzi wala Syyama Al-Gariibu Minha atau Fuhris litartibi Ahaditsi Shahihi Musli, Miftahus Sahihain, Al-Bugyatu fi Tartibi Ahaditsi Al-Hilyah, Al-Jami’us Shagir, Al-Mu’jam Al-Mufahras li Alfadzil Hadis Nabawi. Adapun metode-metode yang digunakan untuk mentakhrij hadits, yaitu: metode takhrij hadits menurut lafadz pertama, menurut lafadz-lafadz yang terdapat dalam hadits, melalui perawi hadist pertama, mencari hadits berdasarkan tema dan takhrij berdasarkan status hadis.









DAFTAR PUSTAKA

 

M. Agus Solahudin, A. S. (2008). Ulumul Hadis. Bandung: Pustaka Setia.
Sahrani, S. (2010). Ulumul Hadits. Ciawi-Bogor: Ghalia Indonesia.
Yuslem, N. (2001). Ulumul Hadits. Malang: Pt. Mutiara Sumber Widya.

  








[1] Abu Muhammad Al-Mahdi Ibn Abd Al-Qadir Al-Hadi. Drul Ikhtisham: Thariqu Takhrij Hadits Rasulullah ‘Alaihi wasallam. t.t. hlm. 6.
[2]  Mahmud Ath-Thahhan. Ushul At-Takhrij wa Dirasah As-Sanid. Riyadh : Maktabah Rosyad. t.t. hlm. 12.
[3] Utang Ranuwijaya. Ilmu Hadits. Jakarta: Gaya Media Pratama. 1996.
[4] Ahmad Zarkasyi Chumaidy. “Takhrij Al-Hadits: Mengkaji dan Meneliti Al-Hadits”. Bandung: IAIN Sunan Gunung Djati. 1990. Hlm. 7.
[5] Syaikh Manna’ Al- Qaththan. Mabahits fi ‘Ulumil Hadits. Terj. Muhammad Ihsan. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. 2005. Hlm. 189.
[6] Ranuwijaya. op.cit. hlm. 155.
[7] Al-Qaththan. op.cit. hlm. 190.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar