BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Takhrij hadis merupakan langkah awal dalam kegiatan penelitian
hadis, pada masa awalnya penelitian hadis ini telah dilakukan oleh para ulama
salaf yang kemudian hasilnya telah dikodifikasikan dalam berbagai buku hadis.
Mengetahui masalah takhrij, kaidah dan metodenya adalah sesuatu
yang sangat penting bagi orang yang mempelajari ilmu tidak akan dapat
membuktikan (menguatkan) dengan suatu hadis atau tidak dapat meriwayatkan
kecuali setelah para ulama meriwayatkan hadis tersebut dalam kitabnya lengkap
dengan sanadnya, karena itu, masalah takhrij ini sangat dibutuhkan setiap orang
yang membahas atau menekuni ilmu-ilmu syar’i dan yang sehubungan denganya.
Takhrij hadis bertujuan untuk mengetahui sumber asal hadis yang
ditakhrij. Tujuan lainya adalah mengetahui ditolak atau diterimannya
hadis-hadis tersebut. Dengan cara ini kita akan mengetahui hadis-hadis yang
pengutipanya memperhatikan kaidah-kaidah ulumul hadis yang berlakusehingga
hadis tersebut menjadi jelas, baik asal-usul maupun kualitasnya.
B. Pembatasan Masalah
Untuk memperjelas ruang lingkup pembahasan, maka
masalah yang dibahas pada masalah :
a. Pengertian
Takhrij Hadits
b. Tujuan
dan faedah Takhrij Hadits
c. Sejarah
Takhrij Hadits
d. Kitab-kitab
yang diperlukan untuk Takhrij Hadits
e. Metode
Takhrij Hadits
C. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan pembatasan tersebut,
masalah-masalah yang dibahas dapat dirumuskan sebagai berikut :
a. Apa
pengertian Takhrij Hadits ?
b. Apa
tujuan dan faedah Takhrij Hadits ?
c. Bagaimana
sejarah Takhrij Hadits ?
d. Apa
saja kitab-kitab yang diperlukan untuk Takhrij Hadits ?
e. Apa
saja metode Takhrij Hadits ?
D. Tujuan Masalah
a. Untuk
mengetahui pengertian takhrij hadits
b. Untuk
mengetahui tujuan dan faedah takhrij hadits
c. Untuk
mengetahui sejarah takhrij hadits
d. Untuk
mengetahui apa saja kitab-kitab yang diperlikan untuk takhrij hadits
e. Untuk
menjelaskan metode tahkrij hadits
BAB
II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
TAKHRIJ HADITS
Takhrij menurut lughat berasal dari kata خرج , yang berarti nampak atau jelas. Takhij
secara bahasa berarti juga berkumpulnya dua perkara yang saling berlawanan
dalam satu persoalan, namun secara mutlak, ia diartikan oleh para ahli bahasa
dengan arti mengeluarkan (al-istinbath), melatih atau membiasakan (at-tadrib),
dan menghadapkan (at-taujih).[1]
Takhrij menurut istilah adalah,
التخريج هو الدلالة على موضع الحديث في مصادر الااصلية التي اخرجته
سنده ببيان مرتبته عند الحاجة.
Takhrij adalah penunjukan terhadap tempat
hadits di dalam sumber aslinya yang dijelaskan sanad dan martabatnya sesuai
keperluan.[2]
Takhrij juga dapat dijelaskan sebagai
berikut:
1. Mengemukakan hadits pada orang banyak
dengan menyebutkan para rawinya yang ada dalam sanad hadits itu.
2. Mengemukakan asal-usul hadits sambil
dijelaskan sumber pangambilannya dari berbagai kitab hadits, yang rangkaian
sanadnya berdasarkan riwayat yang telah diterimanya sendiri atau berdasarkan
rangkaian sanad gurunya, dan yang lainnya.
3. Mengemukakan hadits-hadits berdasarkan
sumber pengambilannya dari kitab-kitab, yang didalamnya dijelaskan metode
periwayatannya dan sanad hadits=hadits tersebut, dengan metode dan kualitas
para rawi sekaligus haditsnya. Dengan demikian, pen-takhrij-an hadits
penelusuran atau pencarian hadits dalam berbagai kitab hadits (sebagai sumber
asli dari hadits yang bersangkutan), baik menyangkut materi atau isi (matan),
maupun jalur periwayatan (sanad) hadits yang dikemukakan.
B. TUJUAN
DAN FAEDAH TAKHRIJ HADITS
Ilmu takhrij merupakan bagian dari ilmu
agama yang harus mendapat perhatian serius karena di dalamnya dibicarakan
berbagai kaidah untuk mengetahuai sumber hadits itu berasal. Di samping itu, di
dalamnya ditemukan banyak kegunaan dan hasil yang diperoleh, khususnya dalam
menentukan kualitas sanad hadits.[3]
Takhrij hadits bertujuan mengetahui
sumber asal hadits yang ditakhrij. Tujuan lainnya adalah mengetahui ditolak
atau diterimanya hadits-hadits tersebut. Dengan cara ini, kita akan mengetahui
hadits-hadits yang pengutipannya memerhatikan kaidah-kaidah ulumul hadits yang
berlaku sehingga hadits tersebut menjadi jelas, baik asal-usul maupun
kualitasnya.
Adapun faedah takhrij hadits ini antara
lain:
1. Dapat diketahui banyak-sedikitnya jalur
periwayatan suatu hadits yang sedang menjadi topik kajian.
2. Dapat diketahui kuat dan tidaknya
periwayatan akan menambah kekuatan riwayat. Sebaliknya, tanpa dukungan
periwayatan lain, kekuatan periwayatan tidak akan bertambah.
3. Dapat ditemukan status hadits shahih
lidzatih atau shahih li ghairih, hasan li dzatih atau hasan li
ghairih. Demikian juga, akan dapat diketahui istilah mutawatir, masyhur,
aziz, dan gharib-nya.[4]
4. Mamberikan kemudahan bagi orang yang
hendak mengamalkan setelah mengetahui bahwa hadits tersebut adalah maqbul
(dapat diterima). Sebaliknya, oarang tidak akan mengamalkannya apabila
mngetahui bahwa hadits tersebut mardud (ditolak).
5. Menguatkan keyakinan bahwa suatu hadits
adalah benar-benar berasal dari Rasulullah SAW. yang harus diikuti karena
adanya bukti-bukti yang kuat tentang kebenaran hadits tersebut, baik dari segi
sanad maupun matan.
C. SEJARAH
TAKHRIJ HADITS
Penguasaan para ulama’ dahulu terhadap
sumber-sumber hadits begitu luas sehingga jika disebutkan suatu hadits mereka
tidak merasa kesulitan untuk mengetahui sumber hadits tersebut. Ketika semangat
belajar mulai melemah, mereka kesulitan untuk mengetahui tempat-tempat hadits
yang dijadikan rujukan para penulis ilmu syar’i. Sebagian ulama’ bangkit dan
memperlihatkan hadits-hadits yang ada pada sebagian kitab dan menjelaskan
sumbernya dari kitab yang asli, menjelaskan metodenya, dan menerangkan
kualitasnya, apakah hadits tersebut shahih atau dha’if, lalu muncullah apa yang
dinamakan dengan kutub at-takhrij (buku-buku takhrij).[5]
Ulama’ yang pertama kali melakukan
takhrij menurut Mahmud Ath-Thahhan adalah Al-Khaththib Al-Baghdadi (w. 436 H).
Kemudian, dilakukan pula oleh Muhammad bin Musa Al-Hazimi (w. 584 H) dengan
karyanya yang berjudul Takhrij Ahadits Al-Muhadzdzab. Ia men-takhrij
kitab fiqh Syafi’ah karya Abu Ishaq asy-Syirazi. Ada juga ulama’
lainnya, seperti Abu Al-Qasimi Al-Husaini dan Abu Al-Qasim Al-Mahrawani. Karya
kedua ulama’ ini hanya beberapa manuskrip saja. Pada perkembangan selanjutnya,
cukup banyak bermunculan kitab yang berupaya men-takhrij kitab-kitab
dalam berbagai ilmu agama.[6]
Di antara kitab-kitab takhrij
tersebut, adalah sebagai berikut:[7]
1. Takhrij
Hadits Al-Muhadzdzabi, karya Muhammad Bin Musa Al-Hazimi Asy-Syafi’i (w. 548 H).
2. Takhrij
Ahadits Al-Mukhtashar Al-Kabir Li Ibni Al-Hajib, karya Muhammad Bin Ahmad Abdul Hadi
Al-Maqdisi (w. 762 H).
3. Nashbu
Ar-Rayah Li Ahadits Al-Hidayah Li Al-Marghinani, karya Abdulllah Bin Yusuf Al-Zaila’i.
4. Takhrij
Ahadits Al-Kasysyaf Li Az-Zamakhsyari, karya Al-Hafidz Al-Zaila’i.
5. Al-Badru
Al-Munir Fi Takhrij Al-Ahadits Wa Al-Atsar Al-Waqi’ah Fi Asy-Ayarhi Al-Kabir Li
Ar-Rafi’i, karya
Umar Bin Ali Bin Al-Mulaqqin (w. 804 H).
6. Al-Mughni’an
Hamli Al-Ashfar Fi Al-Ashfar Fi Takhriji Ma Fi Al-Ikhya’ Min Al-Akhbar, karya Abdurrahman Al-Husaini Al ‘Iraqi
(w. 806 H).
7. Takhrij
Al-Ahadits Allati Yusyiiru Ilaihi At-Tirmidzi Fi Kulli Bab, karya Al-Hafidz Al-‘Iraqi.
8. At-Talkhish
Al-Habir Fi Takhrij Ahaditsi Syarh Al-Wajiz Al-Kabir Li Ar-Rafi’i, karya Ahmad Bin Ali Bin Hajar
Al-Asqalani (w. 852 H).
9. Ad-Dirayah
Fi Takhrij Ahadits Ahadits Al-Hidayah, karya Al-Hafidz Ibnu Hajar.
10.
Tuhfatu Ar-Rawi Fi Takhrij Ahaditsi Al-Baidhawi, karya Abdur Ra’uf Ali Al-Manawi (w.
1031 H).
D. KITAB-KITAB
YANG DIPERLUKAN
Dalam melakukan takhrij hadis, kita memerlukan kitab-kitab
yang berkaitan dengan takhrij hadis ini. Adapun kitab-kitab tersebut
antara alain sebagai berikut.
1.
Hidayatul bari ila tartibi Alhadisil Bukhari
Penyusun kitab ini adalah Abdur
Rahman Ambar A-Misri At-Tahtawi. Kitab ini disusun khusus untuk mencari
hadis-hadis yang termuat dalam Shahih Al-Bukhari. Lafadz hadis disusun
menurut aturan urutab huruf abajad Arab. Namun, hadis-hadis yang dikemukakan
secara berulang dalam Shahih Bukhari tidak dimuat secara berulang dalam
kamus di atas. Dengan demikian, pebedaan lafadz dalam matan hadis riwayat
Al-Bukhari tidak dapat diketahui melalui kamus tersebut.
2.
Mu’jam Al-Fadzi wala Syyama Al-Gariibu Minha atau Fuhris litartibi
Ahaditsi Shahihi Muslim
Kitab tersebut merupakan salah satu juz, yakni juz ke-5 dari Kitab Shahih
Muslim yang disunting oleh Muhammad Abdul Baqi. Juz ke-5 ini merupakan
kamus terhadap juz ke-1-4 yang berisi:
a.
Daftar
urutan judul kitab, nomor hadis, dan juz yang memuatnya.
b.
Daftar
nama para sahabat Nabi yang meriwayatkan hadis yang termuat dalam Shahih
Muslim.
c.
Daftar
awal matan hadis dalam bentuk sabda yang tersusun menurut abjad serta
menerangkan nomor-nomor hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari bila kebetulan
hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Bukhari.
3.
Miftahus Sahihain
Kitab ini disusun oleh Muhammad Syarif bin Mustafa Al-Tauqiah.
Kitab ini dapat digunakan untuk mencari hadis-hadis yang diriwayatkan oleh
Muslim. Akan tetapi, hadis-hadis yang
dimuat dalam kitab ini hanyalah hadis-hadis yang berupa sabda (qauliyah)
saja. Hadis tersebut disusun menurut abjad
dari awal lafadz matan hadis.
4.
Al-Bugyatu fi Tartibi Ahaditsi Al-Hilyah
Kitab ini disusun oleh Sayyid Abdul Aziz bin Al-Sayyid Muhammad bin
Sayyid Siddiq Al-Qammari. Kitab hadis tersebut memuat dan menerangkan
hadis-hadis yang tercantum dalam kitab yang disusun Abu Nuaim Al-Asabuni (w.
430 H) yang berjudul Hilyatul Auliyai wathabaqatul Asfiyai.
Sejenis dengan kitab tersebut adalah kitab Miftahut Tartibi li
Alhaditsi Tarikhil Khatib yang disusun oleh sayyid Ahmad bin Sayyid
Muhammad bin Sayyid As-Siddiq Al-Qammari yang memuat dan menerangkan
hadis-hadis yang tercantum dalam kitab sejarah yang disusun oleh Abu Bakar bin
Ali bin Subit bin Ahmad Al-Bagdadi yang dikenal dengan Al-Khatib Al-Bagdadi
yang dikenal dengan Al-Khatib Al-Bagdadi (w. 463 H). Kitabnya diberiKitabnya
diberi judul Tarikhu Bagdadi yang
terdiri atas 4 jilid.
5.
Al-Jami’us Shagir.
Kitab ini disusun oleh Imam Jalaludin Abdurrahman As-Suyuthi (w. 91
H). Ktab kamus hadis ini memuat hadis-hadis yang terhimpun dalam kitab himpunan
kutipan hadis yang disusun oleh As-Suyuthi juga, yakni Jam’ul Jawami’i.
Hadis yang dimuat dalam kitab Jamius Shagir disusun
berdasarkan urutan abjad dari awal lafadz matan hadis. Sebagian dari
hadis-hadis itu ada yang ditulis secara lengkap dan ada pula yang ditulis
sebagian-sebagian saja, namun telah mengandung pengertian yang cukup.
Kitab hadis tersebut juga menerangkan nama-nama sahabat Nabi yang
meriwayatkan hadis yang bersangkutan dan nama-nama mukharij-nya
(periwayat hadis yang menghimpun hadis dalam kitabnya). Selain itu, hampir setiap hadis yang dikutip dijelaskan
kualitasnya menurut penilaian yang dilakukan atau disetujui oleh As-Suyuthi.
6.
Al-Mu’jam Al-Mufahras li Alfadzil Hadis Nabawi
Penyusun kitab ini adalah sebuah tim dari kalangan orientalis. Di
antara anggota tim yang paling aktif dalam kegiatan proses penyusunan adalah Dr.
Arnold John Wensinck (w. 939 M), seorang profesor bahasa-bahasa Semit, termasuk
bahasa Arab di Universitas Leiden, negeri Belanda.
Kitab ini dimaksudkan untuk mencari hadis berdasarkan petunjuk
lafadz matan hadis. Berbagai lafadz yang disajikan tidak dibatasi hanya
lafadz-lafadz yang berada di tengah dan bagian-bagian lain dari matan hadis.
Dengan demikian, kitab Mu’jam mampu memberikan informasi kepada pencari
matan dan sanad hadis selama sebagian dari lafazh matan yang dicarinya itu
telah diketahuinya.
Kitab mu’jam ini terdiri dari tujuh juz dan dapat digumakan
untuk mencari hadis-hadis yangbterdapat dalam sembilan kitab hadis, yakni Shahih
Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan Tirmidzi, Sunan Nasa’i, Sunan
Ibnu Majah, Sunan Darimi, Muwatta Malik, dan Musnad Ahmad
E. METODE
TAKHRIJ HADITS
1.
Metode Takhrij Hadits menurut Lafadz Pertama
Metode takhrij hadits menurut lafadz pertama, yaitu
suatu metode yang berdasarkan pada lafadz pertama matan hadits, sesuai dengan
urutan huruf-huruf hija’iyyah dan alfabetis, sehingga metode ini
mempermudah pencarian hadits yang dimaksud.
Adapun kitab yang menggunakan metode ini,
diantaranya kitab Al-Jami’ As-Shaghir Fi Ahadits Al-Basyir An-Nazir,
yang disusun oleh Jalaluddin Abu Fadhil Abd Ar-Rahman Ibn Abi Bakar Muhammad
Al-Khudri As-Suyuthi. Dalam ini, hadits-hadits disusun berdasarkan urutan huruf
hija’iyyah sehingga pencarian hadits yang dimaksud sangat mudah. Juga
didalamnya dimuat petunjuk para mukharij hadits yang bersangkutan (dalam
Mashdar Al-Ashli) dan pernyataan kualitas hadits yang bersangkutan.
Contohnya hadits Nabi berikut
ini,
ليْسَ الشَّدِيدُ
بِالصُّرَعَةِ
Untuk mengetahui lafadz lengkap dari penggalan matan
tersebut, langkah yang harus dilakukan adalah menelusuri penggalan matan itu
pada urutan awal matan yang memuat penggalan matan yang dimaksud. Dalam kamus
yang disusun oleh Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, penggalan hadits tersebut terdapat
di halaman 2014. Berarti, lafadz yang dicari berada pada halaman 2014 juz IV.
Setelah diperiksa, bunyai lengkap matan hadits yang dicari adalah,
عن ابي هريرة ان
رسول الله ص قال: ليْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى
يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW. bersabda,
“(Ukuran) orang yang kuat (perkasa) itu bukanlah dari kekuatan orang itu dalam
berkelahi, tetapi yang disebut sebagai orang yang kuat adalah orang yang mampu
menguasai dirinya tatkala dia marah. “
Bila hadits itu dikutip dalam karya tulis
ilmiah, sesudah lafadz matan dan nama sahabat periwayat hadits yang bersangkutan
ditulis, nama Imam Muslim disertakan. Biasanya kalimat yang dipakai adalah,
رواه مسلم
Nama sahabat periwayat hadits dalam contoh di atas
adalah Abu Hurairah, dapat pula ditulis sesudah nama Muslim dan tidak ditulis
di awal matan. Kalimat yang dipakai adalah,
رواه مسلم عن ابي هريرة
Dalam
kitab Shahih Muslim dicantumkan di catatan kaki sebagaimana lazimnya.
2.
Metode Takhrij menurut Lafadz-lafadz yang Terdapat dalam Hadits.
Metode takhrij hadits menurut lafadz yang terdapat
dalam hadits, yaitu suatu metode yang berlandaskan pada kata-kata yang terdapat
dalam matan hadits, baik berupa kata benda ataupun kata kerja.
Dalam metode ini tidak digunakan huruf-huruf, tetapi yang dicantumkan adalah
bagian haditsnya sehingga pencarian hadits-hadits yang dimaksud dapat diperoleh
dengan cepat.
Kitab yang berdasarkan metode ini di antaranya
adalah kitab Al-Mu’jam Al-Mufahros Li Alfadz Al-Hadits An-Nabawi,yang
disusun oleh A.J. Wensink dan kawan-kawan, yang kemudian diterjemahkan oleh
Muhammad Fu’ad Abd Baqi. Kitab yang menjadi rujukan kitab kamus tersebut adalah
Shahih Bukhari, Shahih Muslim,Sunan Ibn Majah, Sunan Abu Daud, Sunan
An-Nasa’i, Sunan At-Tirmidzi, Sunan Ad-Darami, Muwatha’ Imam Malik, dan Musnad
Ahmad Ibn Hanbal.
Contohnya hadits berikut ini,
عن علي رضي الله عنه عن النبي ص.م. قال : رفع القلم عن أمتى عن
ثلاثة : عن النائم حتّى يستيقظ وعن الصبي حتى يحتلم وعن المجنون حتى يفيق.
Dalam
mencari hadits tersebut, kita bisa menggunakan kitab Al-Mu’jam Al-Mufahros Li Alfadz Al-Hadits
An-Nabawi,
berdasarkan kata kunci رفع , القلم dan ثلاثة .
Kata رفع dicari
pada juz yang memuat huruf awal (dalam hal ini juz II), kata القلم dicari pada juz yang memuat huruf qaf (dalam
hal iini juz V), dan kata ثلاثة dicari
pada juz yang memuat huruf tsa (dalam hal ini juz I).
Setelah
masing-masing juz diperiksa, yakni untuk tiap-tiap penggalan matan yang
dimaksud, data yang disajikan oleh kitab-kitab Al-Mu’jam Al-Mufahros Li Alfadz Al-Hadits
An-Nabawi, adalah
sebagai berikut.
|
Juz
|
Hlm.
|
Lambang yang diketemukan
|
|
I
|
298
|
د حدود 17
|
|
II
|
280
|
خ حدود 22, طلاق
11, د
حدود 17
|
|
V
|
465
|
خ حدود 22, طلاق 11,
د 17, ت حدود 1
د حدود 17
ن طلاق 21, جه طلاق 15, دي حدود 1
حم 1, 158, 155, 140,
118, 116, 1002
|
Dari
data di atass, dapat diketahui bahwa informasi yang diperoleh lewat penelusuran
kata ‘القلم’ , yang dimuat dalam juz V, ternyata lebih banyak lagi
daripada yang berasal dari Juz I dan Juz II.
3.
Takhrij melalui perawi hadist pertama
Metode ini berlandaskan pada perawi pertama suatu hadis, baik
perawi tersebut dari kalangan sahabat, bila sanadnya muttasil
sampai kepada NAbi saw., atau dari kalangan tabi’in,apabila hadis
tersebut mursal. Para penyusun kitab-kitab takhrij dengan metode
ini mencantumkan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh perawi pertama dari setiap
hadis yang hendak di-takhrij dan setelah itu,barulah mencari nama perawi
pertama tersebut dalam kitab-kitab itu, dan selanjutnya,mencari hadis dimaksud
di antara hadis-hadis yang tertera dibawah nama perawi pertama tersebut.
Keuntungan dengan metode ini adalah bahwa masa
proses takhrij dapat diperpendek karena dengan metode ini, diperkenalkan
para ulama hadis yang meriwayatkannya beserta kitab-kitabnya. Akan tetapi, kelemahan
dari metode ini adalah ia tidak dapat digunakan dengan baik apabila perawi
pertama hadis yang hendak diteliti itu tidak diketahui dan demikian juga,
merupakan kesulitan tersendiri untuk mencari hadis diantaranya hadis-hadis yang
tertera di bawah setiap perawi pertamanya yang jumlahnya kadang-kadang cukup
banyak.
Kitab-kitab yang disususun metode ini adalah kitab-kitab al-Athraf
dan kitab-kitab Musnad. Kitab AL-Athraf adalah kitab yang
menghimpun hadis-hadis yang diriwayatkan oleh setiap sahabat. Penyusunannya hanya menyebutkan beberapa kata atau
pengertian dari matan hadis, yang denganya dapat dipahami hadis
dimaksud. Sementara, dari segi sanad, keseluruhan sanad-sanad-nya
dikumpulkan. Diantara kitab-kitab Al-Athraf ini adalah Athraf Al-Shahiyan
karangan Imam Abu Mas’ud Ibrahim al-Dimasyqi (w. 400 H), Athrafal-Kutub
al-Sittah karangan Syams al-Din al-Maqsidi (w. 507 H),dan yang lainya.
Adapun kitab musnad adalah kitab yang disusun berdasarkan perawi
teratas, yaitu sahabat,dan memuat hadis-hadis setiap sahabat. Kitab ini
menyebutkan seseorang sahabat dan dibawah namanya itu dicantumkan hadis-hadis
yang diriwayatkannya dari Rosulullohsaw. Beserta pendapat dan tafsiranya. Suatu
kitab musnad tidaklah memuat keseluruhan sahabat, ada di antaranya yang
memuat sahabat dalam jumlah besar dan ada yang memuat sahabat-sahabat yang
memiliki kesamaan dalam hal-hal tertentu, seperti musnad sahabat yang
sedikit riwayatnya atau musnad sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, atau
bahkan ada musnad yang hanya memuat hadis-hadis dari satu orang sahabat, yaitu
seperti musnad Abu Bakar.
Hadis-hadis yang terdapat didalam kitab tidak diatur menurut suatu
aturan apapun dan tidak memiliki nilai atau kualitasnya yang sama. Dengan
demikian, didalam musnad
hadis-hadis shahih, hasan dan dhaif dan masing masing
tidak terpisah antara yang satu dan yang lainnya,tetapi dikumpulkan, menjadi
satu. Diantara contoh kitab musnad tersebut adalah Musnad Imam Ahmad
Ibn Hambal.
Kelebihan kitab musnad adalah bahwa kitab ini mencakup
hadis-hadis dalam jumlah yang sangat banyak,memiliki nilai kebenaran yang lebih
banyak dari yang lainnya, serta mencakup hadis-hadis dan atsar-atsar
yang tidak terdapat didalam kitab yang lain selain kitab ini.
Selain memiliki kelebihan, kitab jenis ini juga mempunyai
kekurangan-kekurangan, seperti tanpa mengetahui nama sahabat, tidaklah mungkin
seorang mukharrij sampai kepada hadis yang dituju, untuk mengetahui
hadis mawudhu’ mengharuskan seorang peneliti membaca musnad
keseluruhanya, dan berdasarkan segi tata letaknya yang sedemikian rupa, akan
mengakibatkan tidak efisien menggunakan metoe ini.
4.
Mencari Hadits berdasarkan Tema
Upaya
mencari hadis terkadang tidak didasarkan pada lafazh matan (materi) hadis,
tetapi didasarkan pada topik masalah. Pencarian matan hadis berdasarkan topic
masalah sangat menolong pengkaji hadis yang ingin memahami petunjuk-petunjuk
hadisdalam segala konteksnya.
Pencarian
matan hadis berdasarkan topic masalah tertentu dapat ditempuh dengan cara
membaca berbagai kitab himpunan kutipan hadis , namun berbagai kitab itu
biasanya tidak menunjukan teks hadis menurut
para periwayatnya masing-masing. Padahal, untuk memahami topic tertentu
tentang petunjuk hadis, diperlukan pengkajian terhadap teks-eks hadis menurut
periwayatnya masing-masing. Dengan bantuan kamus hadis tertentu, pengkajian
teks dan konteks hadis menurut riwayat dari berbagai periwayat akan mudah
dilakukan. Salah satu kamus hadis itu adalah kitab Miftahu Al-Qunuz Al-Sunnah
(Untuk empat belas hadis dan kitab tarikh Nabi).
Kitab
tersebut merupakan kamus hadis yang disusun berdasarkan topic masalah.
Pengarang asli kamus hadis tersebut adalah Dr. A.J. Wensinck (w. 1939), seorang
orientalis yang besar jasanya dalam dunia perkamusan hadis. Sebagaimana telah
dibahas dalam uraian terdahulu, A.J. Wensinck adalah juga penyusun utama kitab
kamus hadis, yaituAl-Mu’jam Al-Mufahras li Al-Faz Al-Hadits An-Nabawi. Bahasa
asli kitab tersebut adalah bahasa inggris denagan judul A Handbook of Early
Muhammadan. Kamus hadis yang berbahasa inggris tersebut diterjemahkan kedalam
bahasa arab sebagaimana tercantum di atas oleh Muhammad Fuad Al-Baqi. Muhammad
Fuad tidak hanya menerjemahkan saja, tetapi juga mengoreksi berbagai data yang
salah.
Naskah yang berbahasa inggris diterbitkan untuk pertama
kalinya pada tahun 1927 dan terjemahanya tahun
1934
Dalam
kamus hadis tersebut dikemukakan
berbagai topik , baik
yang berkenaan dengan masalah masalah
yang berkaitan dengan
petunjuk nabi maupun
yang berkenaan dengan masalah
masalah yang berkaitan dengan
nama . setiap subtopik
dikemukakan data hadis dan kitab
yang menjelaskanya .
Dalam
pencarian hadis, yang pertama kali harus diketahui adalah temanya. Adapun tema yang akan kita cari
adalah,
رفع القلم عن ثلاثة : عن النائم حتّى يستيقظ
Telah
diangkat kalam (pencatat amal manusia ,disebabkan) oleh tiga keadaan ,(yakni)
yang tidur sampai bangun ....
Jika
hadits tersebut dikutip dalam karya tulis
ilmiah, sesudah ditulis lafazh matan dan nama sahabat periwayat hadis yang
bersangkutan ,disertakan nama imam yang
meriwayatkannya (dalam hal ini salah
satu imam yang meriwayatkan hadis ini adalah at-tirmidzi) sehingga kalimat yang
dipakai adalah رواه الترمذي .
Nama
sahabat periwayat hadis , dalam contoh di atas
imam ali abi thalib , dapat
pula sesudah nama at-tirmidzi ,dan tidak
ditulis di awal matan. Dalam hal ini, kalimat yang dipakai dapat berbunyi,
رواه مسلم عن علي.
Dalam
hasil pencarian hadits tersebut, dapat dirumuskan:
|
بخ ك 86
ب 22 ك 93 ب 19
|
|
مس ك 29
ح 22
|
|
تر ك 51
ب 1
|
|
بد ك 37
ب 18,17
|
|
مج ك 20
ب 1
|
|
مي ك 13
ب 1
|
|
زح 777
|
|
حم أول 158,140,119,116, سادس 144,101,100
|
Kitab-kitab yang menjadi
rujukan kamus tidak hanya kitab-kitab hadits saja, tetapi jumlah kitab rujukan
itu ada empat belas kitab, yakni:
1. Shahih Bukhari
2. Shahih Muslim
3. Sunan Abi Daud
4. Sunan At-Tirmidzi
5. Sunan An-Nasa’i
6. Sunan Ibnu Majah
7. Sunan Ad-Darami
8. Muwaththa’ Malik
9. Musnad Ahmad bin
Hanbal
10.
Musnad Abi Daun At-Thayalisi
11.
Musnad Zaid bin Ali
12.
Sirah Ibnu Hisyam
13.
Maghadi Al-Waqidi
14.
Tabaqat Ibnu Sa’ad
Dalam kamus, nama
dan beberapa hal yang berhubungan dengan kitab-kitab tersebut dikemukakan dalam
bentuk lambang. Contoh berbagai lambang yang dipakai dalam kamus Hadits Miftah
Kunuzis Sunnah, yaitu:
|
أول
|
Juz pertama
|
|
ب
|
Bab
|
|
بخ
|
Shahih Al-Bukhari
|
|
د
|
Sunan Abu Daud
|
|
تر
|
Sunan At-Tirmidzi
|
|
ثالث
|
Juz ketiga
|
|
ثان
|
Juz kedua
|
|
ج
|
Juz
|
|
ح
|
Hadits
|
|
حم
|
Musnad Ahmad
|
|
خامس
|
Juz kelima
|
|
رابع
|
Juz keempat
|
|
ز
|
Musnad Zaid bin Ali
|
|
سادس
|
Juz keenam
|
|
ص
|
Halaman (shafhah)
|
|
ط
|
Musnad Abi Daud At-Thayalisi
|
|
عد
|
Thabaqat Ibni Sa’ad
|
|
ق
|
Bagian kitab (qismul kitab)
|
|
قا
|
Konfirmasikan data sebelumnya dengan
data yang sesudahnya
|
|
قد
|
Maghadzi Al-Waqidi
|
|
ك
|
Kitab (dalam arti bagian)
|
|
ما
|
Muwaththa’ Malik
|
|
مج
|
Sunan Ibnu Majah
|
|
مس
|
Shahih Muslim
|
|
م م م
|
Hadits terulang beberapa kali
|
|
مي
|
Sunan Ad-Darami
|
|
نس
|
Sunan An-Nasa’i
|
|
هش
|
Sirah Ibni Hisyam
|
Angka kecil yang berada disebelah kiri
bagian atas dari angka yang umum berarti hadits yang bersangkutan termuat
sebanyak angka kecil itu pada halaman atau bab yang angkanya disertai dengan
angka kecil tersebut.
Setiap halaman kamus terbagi dalam tiga
kolom. Setiap kolom memuat topik, setiap topik biasanya mengandung beberapa
subtopik, dan pada setiap subtopik dikemukakan data kitab yang memuat hadits
yang bersangkutan.
5.
Takhrij berdasarkan status hadis
Metode ini
memperkenalkan suatu upaya baru yang telah dilakukan para ulama hadis dalam
menyusun hadis-hadis, yaitu hadis
berdasarkan statusnya. Karya-karya tersebut sangat membantu sekali dalam proses
pencarian hadis, seperti hadis-hadis qudsi, hadis masyhur, hadis
mursal, dan lainnya. Seorang peneliti hadis,dengan membuka kitb-kitab seperti
diatas, dia telah melakukan takhrij al-hadits. Kelebihan dari metode ini dapat
dilihat dari segi mudahnya proses takhrij. Hal ini karena sebagian besar
hadis-hadis yang dimuat dalam kitab yang berdasarkan sifat-sifat hadis sangat
sedikit sehingga tidak memerlukan upaya yang rumit. Namun, karena cakupannya
sangat terbatas dan sedikitnya hadis-hadis yang dimuat dalam karya-karya
sejenis, hal ini sekaligus menjadi kelemahan dari metode ini. Kitab-kitab yang disusun berdasarkan metode
ini adalah : Al-Azhar al-Mutanastiroh fi al-Akhbar Al-Mutawatirah
karangan Al-Suyuthi, Al-ttihafat al-Saniyyah fi al-Ahadits al-Qudsiyyah
oleh al-Madani dan kitab-kitab sejenis lainya.
Demikianlah metode-metode takhrij yang dapat dipergunakan oleh para
peneliti hadis dalam rangka mengenal hadis-hadis Nabi saw. Dari segi sanad dan
matan-nya, terutama dari segi statusnya, yaitu diterima (maqbul) dan ditolak
(mardud)-nya suatu hadis.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Takhrij menurut lughat berasal dari kata خرج , yang berarti nampak atau jelas. Takhrij
menurut istilah adalah penunjukan terhadap tempat hadits di dalam sumber
aslinya yang dijelaskan sanad dan martabatnya sesuai keperluan. Takhrij hadits
bertujuan mengetahui sumber asal hadits yang ditakhrij. Adapun sejarah takhrij
hadits yaitu, ketika semangat belajar mulai melemah, para ulama’ kesulitan
untuk mengetahui tempat-tempat hadits yang dijadikan rujukan para penulis ilmu
syar’i. Sebagian ulama’ bangkit dan memperlihatkan hadits-hadits yang ada pada
sebagian kitab dan menjelaskan sumbernya dari kitab yang asli. Dan kitab-kitab
yang diperlukan untuk mentakhrij hadits antara lain: Hidayatul bari ila tartibi Alhadisil Bukhari, Mu’jam Al-Fadzi wala
Syyama Al-Gariibu Minha atau Fuhris litartibi Ahaditsi Shahihi Musli, Miftahus
Sahihain, Al-Bugyatu fi Tartibi Ahaditsi Al-Hilyah, Al-Jami’us Shagir,
Al-Mu’jam Al-Mufahras li Alfadzil Hadis Nabawi. Adapun metode-metode yang digunakan untuk mentakhrij hadits,
yaitu: metode takhrij hadits menurut
lafadz pertama, menurut
lafadz-lafadz yang terdapat dalam hadits, melalui perawi hadist pertama,
mencari hadits berdasarkan tema dan takhrij berdasarkan status hadis.
DAFTAR PUSTAKA
M. Agus Solahudin, A. S.
(2008). Ulumul Hadis. Bandung: Pustaka Setia.
Sahrani, S. (2010). Ulumul Hadits.
Ciawi-Bogor: Ghalia Indonesia.
Yuslem, N. (2001). Ulumul Hadits. Malang: Pt. Mutiara Sumber
Widya.
[1] Abu Muhammad
Al-Mahdi Ibn Abd Al-Qadir Al-Hadi. Drul Ikhtisham: Thariqu Takhrij Hadits
Rasulullah ‘Alaihi wasallam. t.t. hlm. 6.
[2] Mahmud Ath-Thahhan. Ushul At-Takhrij wa
Dirasah As-Sanid. Riyadh : Maktabah Rosyad. t.t. hlm. 12.
[3] Utang
Ranuwijaya. Ilmu Hadits. Jakarta: Gaya Media Pratama. 1996.
[4] Ahmad Zarkasyi
Chumaidy. “Takhrij Al-Hadits: Mengkaji dan Meneliti Al-Hadits”. Bandung: IAIN
Sunan Gunung Djati. 1990. Hlm. 7.
[5] Syaikh Manna’
Al- Qaththan. Mabahits fi ‘Ulumil Hadits. Terj. Muhammad Ihsan. Jakarta:
Pustaka Al-Kautsar. 2005. Hlm. 189.
[6] Ranuwijaya. op.cit.
hlm. 155.
[7]
Al-Qaththan.
op.cit. hlm. 190.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar